Cerpen : Ceritah Dari Hidayat Tailor

DAFTAR MENARIK
By -
0

 


CERITA DARI HIDAYAT TAILOR

Oleh : Muchlisinnalahudin

Di ujung senja itu kami berada. Berbincang ngalor-ngidul, tak bertopik. Putaran roda mesin jahit tak kunjung berhenti. Putarannya seperti mencemooh jiwa kami yang sebetulnya gaduh dengan berbagai pertanyaan. Jarum jahit yang tajam itu terus bergairah merajut kain hampa perasaan kami. Di depan kami berkibar lembut umbul-umbul yang berwarna-warni yang seolah tersenyum sinis menatap kami. Sementera jalan sempit di depan Hidayat Tailor ini ramai oleh sepeda motor. Gadis-gadis kecil mendekap erat pinggang pemuda-pemuda tanggung di atas sepeda motor yang melaju menuju ujung sepi. Penjahit di sampingku sesekali tersenyum ketika matanya menagkap tingkah gadis-gadis kecil yang melaju di jalan sempit di depan Tailor kecil itu.



“Tingkah anak-anak sekarang aneh, ya?” sapa Penjahit memecah keheningan.

“Ya, gitu deh.” balasku ringan.

“Kemarin, ada anak sekolah, kayaknya sih masih SMP.”

“Emang kenapa?”

“Masa underock  seragam sekolahnya, kan sudah pendek, eh, minta dipendekin lagi. Katanya sih, lagi mode. Terus ada lagi, Mas, cewe lagi, katanya sekolah di SMA mana gitu. Ia ngecilin t-shirt. Tahu nggak, Mas, t-shirt itu padahal sudah kecil, pendek lagi, eh, minta dipendekin lagi. Pas ia coba 10 cm antara pinggang dan perutnya dibiarkan begitu saja, mungkin buat pentilasi. Terus cewe itu bilang, ‘nah, ini baru seksi’, sambil bergaya di depan saya.”

Aku hanya tersenyum mendengar ceritanya. Sementara senja semakin terkikis, tapi jalan sempit itu semakin gaduh. Sepeda motor yang ditumpangi sejoli-sejoli bau kencur melaju tak beraturan – kadang berlari sambil tertawa; kadang seperti konpoi melaju entah kemana. Mungkin ke suatu tempat yang sudah mereka sepakati bersama. Tentang dimana tempatnya, atau mereka mau bagaimana, hanya mereka yang tahu.

  “Eh, Tukang Ojek kemana? Biasanya nongkrong di sini.” tanyaku sambil larak-lirik kanan kiri.

“Narik kali.” jawab Penjahit yang tetap fokus dengan kain jahitannya.

Selang beberapa detik, Tukang Ojek muncul.

“Panjang umur.”

“Baru kita omongin, sudah nongol.”

“Kenapa, ada jatah lagi?” tanya Tukang Ojek sambil cengar-cengir.

“Ah ... situ telat, baru saja kita makan sate ayam Pak Haji.” Papar Penjahit sambil senyam-senyum melirkku.

“Iya, situ telat!” tambahku, menytujui isyarat Penjahit di sampingku.

  Sementara senja mengayun perlahan menuju kelam. Lampu-lampu jalan semakin terang menyala. Sinarnya membiaskan harapan di hati kami. Harapan agar esok nanti, kami bisa lebih baik.

Tukang Ojek yang sudah bangkotan itu menghisap serutu putihnya penuh penghayatan, kemudian ia hempaskan asapnya ke langit-langit Tailor kecil itu. Ia mulai bercerita,  

“Tahu nggak, barusan gua bawa cewe, anak sekolah. Kayaknya SMA-an kelas 2. dia minta dianterin ke dekat halte di daerah Harmoni. Habis itu, gua nggak langsung cabut. Gua minum teh botol dulu. Nggak lama habis itu, BMW biru berhinti di depan halte. Anak sekolah tadi langsung buka pintu mobil, terus cabut entah kemana.”

“Sudah langgaanan kali, ya?” tanya Penjahit yang masih asyik dengan guntingnya.

“Kata orang situsih, hampir  setiap  sore anak itu pergi sama om-om belang.”

“Belang apanya?” tanyaku bercanda.

“Kalau nggak hidungnya, ya ... burungnya.” jawab Tukang Ojek sambil tertawa.

 Manuk Cucak Rowo-nya sudah alot lagi. Wow, ganas...”, tambah Penjahit memakai ekspresi, “yah, anak sekarang susah ditebak. Dari rumah berangkat sekolah, sampai di jalan belok ke tempat lain. Mendingan kalau hanya main, kalau mainnya sama om-om belang, gimana?” tambahnya lagi.

“Ya, gitu deh.” kometarku singkat saja.

Dua puluh menit lagi adzan Maghrib berkumandang. Kami masih asyik berbincang tentang anak SMA yang dibawa om-om belang tadi.

“Situ nggak ngikutin?” tanya Penjahit lagi.

“Ngapain ngikutin, bensin gua tekor lagi, tapi gua lihatsih BMW itu belok di hotel dekat situ.”

“Oh ...” mulutku dan mulut Penjahit terbuka berbarengan.

“Kira-kira ngapain ya, mereka?” tanya Penjahit berlaga lugu.

“Yah, lu, sok alim. Yang namanya check in ke hotel, ya, pasti main lah! Kalau mainnya, sih, mau main burung atau main apa ke, terserah mereka. Yang jelas seneng-seneng sama manuk cucak rowo. ” Papar Tukang Ojek tak yang lepas dari bahasa slank-nya.

“Saya, cuma ngetes, situ ngerti nggak, check in.” Penjahit itu mengelak.

“Ah, lu kaya nggak tahu gua aja. Gua dah ahlinya soal beginianmah.”

Kami hanya tertawa kecil mendengar penjelasasn Tukang Ojek yang sangat antusias.

Sejenak kami terdiam dalam pikiran masing-masing. Aku yakin di balik selengehannya, Tukang Ojek sedang kebingungan, mungkin memikirkan anak sekolahnya yang belum bayaran, atau kontrakannya yang menunggak dua bulan; atau Penjahit yang memikirkan tentang hidupnya, yang sampai saat ini belum dapat jodoh, padahal usianya sudah berkepala tiga lebih; sementara aku sendiri memikirkan setoran motorku yang harus – terpaksa – aku bayar perbulan, yang sebetulnya untuk hidup sehari-hari saja belum cukup.  

“Habis ngajar?” tanya Tukang Ojek sambil menoleh ke arahku.

“Yah, biasa, kegiatan rutin,” jawabku malas, “kalau lihat anak-anak sekarang emang parah-parah. Tahu nggak, siswaku ada yang buttock-nya sudah nggantung.”

Buttock itu, pan ... ?” Penjahit meyakinkan.

“Ya, betul.” potongku.

“Gantung gimana?” tanya Penjahit.

“Ya, nggak singkron lagi badannya. Bagian belakangnya itu turun 15 cm ke paha. Sudah gitu kalau berpakaian alakadarnya,”

“Alakadarnya gimana?”

“Bajunya ketat. Wudele kadang-kadang nongol. Pokoknya gitu deh.”

“Balik lagi ke yang tadi, emang kalau pan ... o, ya buttock-nya melorot kenapa?”

“Pasti anak itu sering diemek-emek.” jelas Tukang Ojek.

“Kaya jablay gitu?”tanya Penjahit lagi.

“Nah, itu tahu.”

“Ohhh ...”

Lima menit kemudian Tukang Toge Goreng datang. Penjahit mengulurkan kursi pelastik,

“Duduk Mang!  

“Habis, Mang?” tanyaku.

“Masih banyak, nih. Lagi sepi.” Jawab Tukang Toge sedikit mengeluh.

“Namanya juga dagang, pasti ada ramai ada sepi. Kali aja hari ini sepi besok bisa ngantongin banyak.” paparku sedikit menghibur.

“Iya, Mang, dagangmah memang begitu. Hari ini sepi, mungkin besok nggak ada yang beli.” sahut Tukang Ojek bercanda.

“Yah, situ kelewatan, bukannya menghibur kawan lagi susah, malah ngeledek!”

Sorry, sorry gua bercanda.”

Debu jalan menerpa kami – Wajah  tukang ojek yang kumal; raut muka Penjahit yang tampak lesu, kecapaian; rambut kumal Tukang Toge yang penuh keluh – yang sedang berkelakar tentang suka duka hari ini.

Tukang Toge menggeser kursinya mencari posisi yang comfortable. Kalau lihat gayanya ia hendak bercerita sesuatu,

“Saya tadi itu, kan sedang ngelayanin langganan saya, ibu-ibu. Eh ibu itu curhat. Ia ngeluh tentang anak gadisnya yang suka keluyuran setiap malam. Anaknya itu masih sekolah. Ia  nggak bisa diatur. Setiap hari pulang malam, terus, nggak jelas lagi pergi kemana. Belum lagi nilai sekolahya jeblog. Curiganya, banyak tetangganya bilang anak itu suka pergi sama om-om.”

Om-om yang belang itu?”     

“Belang burungya, kan? Ha ... ha ... ha ...” ujar kami bertiga sambil tertawa.

“Barusan Tukang Ojek nganterin anak sekolah yang pergi sama om-om belang juga.”

“Masa sih?” tukang toge kurang percaya.

“Iye, cewe itu check in di hotel di daerah Harmoni.” Jelas tukang Ojek antusias.

“Wah, indehoyan dong?” tanya Tukang Toge.

“Begitulah kira-kira.” jawabku diplomatis.

Senja hampir sirna ditelan kelam. Adzan Maghrib berkumandang bersahuttan menggetarkan jiwa kami untuk datang menghadiri panggilan suci. Kami bergegas meninggalkan Tailor itu menuju Masjid yang berdiri kokoh di sebrang jalan.

  

***

Hujan mengguyur cukup deras. Membasuh jiwa-jiwa kami yang kekeringan. Senja yang hitam memaksa kami tak bedaya dalam dekapannya. Tukang Ojek  dengan kaki dilipat ke dada begitu asyik menikmati berita senja di layar kaca 21 inci. Ia tetap tenang walaupun penghasilan hari ini belum cukup untuk beli beras. Tukang Toge juga tak jauh berbeda, ia tepat di samping Tukang Ojek dengan tangan dilipat di dada, ia tetap stay cool walau dagangannya masih banyak. Mereka terus mengomentari berita yang sedang siar di TV. Sementara Penjahit yang tepat di sampingku tetap asyik dengan mesin jahit dinamonya. Ia merajut harapan di atas kain-kain yang dijahitnya.

Kami berempat selalu berkumpul dalam waktu yang sama. Yaitu, di senja setelah shalat Ashar, menjelang Maghrib. Kami selalu bercerita dan berbagi apa saja tentang masalah kami: kami mengeluh; kami mendapat rezeki; kami kebingungan tidak punya uang; kami belum bayar kontrakan; kami senang; bahkan kami ingin buar air pun cerita. Soalnya toiletnya antri.

Tukang Ojek yang memegang remote control, sejenak tak berkedip menyakasikan berita yang tengah siar itu. Matanya melotot seperti melihat hantu,  

“Itu ... itu, kan cewe yang minggu kemarin gua anterin, yang dibawa om-om belang itu! 

Cewe yang mana?” tanya Tukang Toge.

 “No, noh yang dekat Bapak Botak itu, yang digandeng polisi!” jelas Tukang Ojek sambil menunjuk-nunjuk TV di depannya.     

Aku dan Penjahit juga menoleh ke layar TV.

“Yang mau dimasukkan keambulan, kan? Oh dia, dia, kan anak Ibu langganan saya yang suka pulang malam itu.”

“Yang bener? lu kenal?” tanya Tukang Ojeg kurang percaya.

            “Kenal, sih nggak, tapi ibunya, kan langganan saya.”

            Penjahit yang tadinya di dekatku pun berdiri mendekat ke TV. Matanya tak berkedip,       

“Oh... itu. Itu, kan anak yang ngecilin t-shirt di sisni waktu itu.”

“Yang wudelnya ditongolin  itu?” jelas Tukang Ojek.

“Iya, bener.”

Aku sedikit bergeser dari tempat duduku, memastikan siapa yang ada di layar kaca itu. Masalahnya wajahnya seperti tak asing lagi di mataku.

“Sebentar-sebentar. Kayanya aku juga kenal anak itu,” aku diam sejenak mengingat-ingat, “oh, iya itu, kaya siswaku yang buttock gantung itu.”

“Oh, siswa situ juga?”

“Iya, iya benar! Nah terus itu diapain sama polisi?”

“Menurut beritanya sih, ia ditusuk sama istri bapak yang botak itu.”

“Kok?” tukang jahit belum ngeh.

“Anak itu kepergok sama ibu itu, lagi indehoy sama Bapak Botak itu.” jelas Tukang Ojek dengan gaya khasnya.

“Terus mati nggak?”

“Ya, belumlah. Itu kan dibawa ke ambulan.”

“Wah sekolahan besok bakal ramai. Namanya juga bakal tercoreng hitam.” paparku menyesalkan.

“Pasti itu.” ujar Tukang Ojek meyakinkan.

Kami saling memandang terheran-heran.     

“Jadi ... anak yang minggu kemarin kita ceritain itu sama?” ujar Penjahit memecah keheningan.

“Dunia ini memang sempit.” sahut Tukang Toge lagi.

“Kalau dipikir-pikir kasihan juga, ya, anak itu.”

“Itu sudah jalannya kali, kita nggak usah menyalahkan atau memponis dia! Ia mungkin punya latar belakang yang hitam atau gimana, kita tidak tahu.” paparku berlaga bijak.  

Hujan pun reda. TV dimatikan. Tukang Ojek narik penumpang; Tukang Toge meneruskan dagangnya; Penjahit pun terus asyik dengan rajutannya; sementara aku  melangkah pulang.

  

Jakarta, 8 September 2006


Tags:

Post a Comment

0 Comments

Post a Comment (0)
3/related/default