SAMIUN
Cerpen : Muchlisinnalahudin
Kedatangan Samiun membuat orang sekampung menjadi gempar. Semua orang seperti tak sabar ingin melihatnya. Setelah kepergiannya selama sekitar dua tahun tanpa kabar, ia muncul dengan tingkah yang aneh dan tak masuk akal.
Orang kampung ada yang bilang Samiun dulu diculik. Ada juga yang
bilang ia dibawa hantu dan tak mungkin kembali. Sebagian lainnya mengatakan penunggu Candi Cacaban mengisap darahnya setelah terlebih dahulu mencekiknya. Namun semuanya salah, karena kini ia sudah kembali.
Samiun adalah anak yang baik. Ia seorang santri salaf yang unik. Pendapatnya selalu punya daya tarik tersendiri. Sampai akhirnya ia hilang dan selalu menjadi bahan cerita yang menarik.
Kini Samiun sering menyendiri. Namun ia masih rajin ke masjid dan mengaji. Wajahnya selalu murung seperti tak memiliki gairah hidup lagi. Kalau ia berbicara, ucapannya sulit dimengerti. Apalagi bagi orang kampung seperti Pak Sukardi.
“Saya didatangi malaikat ketika bermimpi. Malaikat itu memberi saya wahyu yang katanya dari Gusti Allah,” cerita Samiun antusias.
“Yang benar, toh, Un? Kamu mengigau kali!” seru Pak Kardi tak percaya sambil terus menyapu halaman masjid.
“Benar, Pak!”
“Terus?”
“Katanya, saya titisan wali.”
Pak Kardi hanya tersenyum. Sapu lidi di tangannya terus bergerak tanpa menunjukkan rasa curiga. Tanpa bertanya lebih jauh, ia terus membereskan sampah di depannya. Pak Kardi mungkin juga berpikir bahwa Samiun sudah sedikit gila.
Samiun selalu menjadi bahan gunjingan. Ceritanya tentang wahyu yang diterimanya mulai menyebar ke berbagai penjuru kampung. Ada yang langsung percaya dan merasa gembira. Ada juga yang mencibir sambil menahan geli.
“Masa, toh, Samiun titisan wali? Wali murid kali!” sahut Darto tak percaya.
“Iya, mengigau kali!” timpal Mali, juga tak percaya.
“Tapi mungkin juga. Soalnya dia rajin salat. Bisa jadi kepergiannya kemarin karena mendapat wangsit itu!” sela Dirno yang agak percaya.
Tak ada hari tanpa ulah Samiun. Setelah mengaku sebagai titisan wali dan telah menerima wahyu, ia membangun musala sendiri di tengah kebun. Dari situ ia menyebarkan paham yang terasa samar dan membingungkan.
Kini Samiun sudah mempunyai pengikut. Ia terus mempertahankan ajaran yang dianutnya. Walaupun banyak tokoh ulama yang menentang, ia tak merasa gentar ataupun takut.
Warga, terutama para ulama, mulai resah dan prihatin. Dalam ajarannya, Samiun menganggap orang selain pengikutnya najis. Jika di jalan ia tanpa sengaja bersenggolan dengan orang yang tidak sepaham, ia harus mencuci diri sebagaimana membersihkan sesuatu yang terkena najis. Dengan demikian, ia menganggap orang di luar kelompoknya sebagai sesuatu yang kotor dan harus dijauhi.
Keresahan warga semakin memuncak. Akhirnya, mereka yang merasa terganggu meluapkan kemarahan. Massa membeludak dengan kebencian dan amarah. Samiun diseret dari padepokannya dengan napas terengah-engah. Ia tak berdaya dan hanya pasrah.
Samiun diarak-arak, lalu dibakar hingga musnah. Tak ada yang tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. Apakah Samiun yang terlalu nyeleneh, atau warga yang diperbudak oleh kebencian dan amarah?
Entahlah.

