Halo, Sahabat DM!
Tahukah kalian bahwa Indonesia
memiliki salah satu bangunan kuno paling megah di dunia? Bangunan tersebut
adalah Candi Borobudur, sebuah mahakarya arsitektur yang telah berdiri
lebih dari seribu tahun. Tidak hanya menjadi tujuan wisata, Borobudur juga merupakan
saksi bisu kejayaan peradaban Nusantara pada masa lampau.
Di balik kemegahannya, Borobudur
menyimpan kisah tentang agama, budaya, ilmu pengetahuan, hingga kemampuan
teknik bangunan yang luar biasa. Mari kita telusuri sejarahnya dengan bahasa
yang sederhana dan mudah dipahami.
Sejarah Berdirinya Candi Borobudur
Candi Borobudur diperkirakan mulai
dibangun sekitar tahun 780 Masehi dan selesai sekitar 825 Masehi.
Pembangunannya berlangsung pada masa pemerintahan Dinasti Syailendra,
sebuah dinasti yang berkuasa di Jawa Tengah dan dikenal sebagai penganut agama
Buddha Mahayana.
Pembangunan candi dimulai pada masa
pemerintahan Raja Samaratungga. Setelah beliau wafat, pembangunan
kemudian diselesaikan pada masa putrinya, Pramodhawardhani.
Pada masa itu, wilayah Jawa Tengah
berkembang menjadi pusat pemerintahan, perdagangan, dan pendidikan agama
Buddha. Borobudur menjadi salah satu simbol kebesaran kerajaan sekaligus pusat
kegiatan keagamaan.
Siapa yang Membangun Borobudur?
Walaupun tidak ditemukan catatan
yang secara pasti menyebutkan nama arsiteknya, masyarakat mengenal sosok Gunadharma
sebagai perancang Borobudur berdasarkan tradisi dan cerita rakyat. Namun,
hingga kini para sejarawan belum menemukan bukti sejarah yang memastikan bahwa
Gunadharma benar-benar merupakan arsitek candi tersebut.
Yang jelas, pembangunan Borobudur
melibatkan ribuan pekerja, pemahat batu, ahli bangunan, dan seniman yang
bekerja selama puluhan tahun.
Agama yang Melatarbelakangi Borobudur
Borobudur merupakan tempat ibadah bagi umat Buddha Mahayana. Agama Buddha Mahayana menekankan perjalanan manusia menuju pencerahan melalui kebijaksanaan, belas kasih, dan pengendalian diri. Ajaran tersebut tergambar jelas pada relief-relief yang menghiasi hampir seluruh dinding candi.
Borobudur bukan sekadar bangunan
batu, tetapi juga menjadi "kitab" yang dipahat dalam bentuk gambar.
Relief-reliefnya menceritakan kehidupan Siddhartha Gautama, hukum sebab-akibat
(karma), serta perjalanan spiritual menuju kebebasan dari penderitaan.
Budaya yang Tercermin di Borobudur
Borobudur memperlihatkan perpaduan budaya lokal Nusantara dengan pengaruh India. Walaupun ajaran Buddha berasal dari India, bentuk bangunan Borobudur memiliki ciri khas Indonesia. Arsitekturnya memadukan konsep gunung suci yang telah dikenal dalam tradisi masyarakat Nusantara dengan ajaran kosmologi Buddha.
Relief-reliefnya juga menggambarkan
kehidupan masyarakat Jawa pada abad ke-8 dan ke-9, seperti kegiatan bertani,
berdagang, berlayar, hingga kehidupan di lingkungan kerajaan. Karena itu,
Borobudur menjadi sumber penting untuk mempelajari sejarah sosial dan budaya
Indonesia pada masa lalu.
Alasan Dibangunnya Borobudur
Borobudur dibangun bukan sebagai istana ataupun benteng pertahanan. Bangunan ini didirikan sebagai tempat ibadah dan ziarah umat Buddha. Para peziarah berjalan mengelilingi setiap tingkat candi searah jarum jam sambil membaca relief-relief yang menceritakan ajaran Buddha. Perjalanan itu melambangkan proses penyucian diri menuju pencerahan.
Selain sebagai tempat ibadah,
Borobudur juga menjadi simbol kejayaan Dinasti Syailendra. Kemegahan candi
menunjukkan kemampuan kerajaan dalam bidang arsitektur, seni, dan organisasi
masyarakat.
Makna Tingkatan Borobudur
Borobudur terdiri atas sembilan tingkat yang melambangkan tahapan kehidupan menurut ajaran Buddha. Tiga bagian utamanya adalah:
Kamadhatu merupakan bagian paling bawah yang menggambarkan dunia
manusia yang masih dipenuhi hawa nafsu dan keinginan.
Rupadhatu adalah bagian tengah yang melambangkan manusia mulai
meninggalkan keterikatan duniawi dan menjalani kehidupan yang lebih bijaksana.
Arupadhatu berada di bagian paling atas. Tingkatan ini melambangkan keadaan spiritual tertinggi, yaitu terbebas dari segala keterikatan duniawi dan mencapai pencerahan. Puncak candi berupa stupa utama menjadi lambang kesempurnaan spiritual dalam ajaran Buddha.
Bahan yang Digunakan untuk Membangun Borobudur
Salah satu kehebatan Borobudur adalah teknik pembangunannya. Candi ini dibangun menggunakan sekitar dua juta balok batu andesit, yaitu batuan vulkanik yang banyak ditemukan di sekitar wilayah Jawa Tengah.
Menariknya, batu-batu tersebut tidak
direkatkan menggunakan semen ataupun kapur. Para pembangunnya menerapkan sistem
saling mengunci (interlocking), sehingga setiap balok batu tersusun kuat
dan stabil.
Selain itu, Borobudur memiliki
sistem saluran air yang dirancang dengan baik untuk mengalirkan air hujan.
Teknologi ini membantu menjaga bangunan tetap kokoh selama berabad-abad.
Relief yang Menghiasi Borobudur
Borobudur memiliki sekitar 2.672 panel relief yang dipahat dengan sangat rinci. Relief-relief tersebut menggambarkan berbagai kisah, antara lain:
- Kehidupan Siddhartha Gautama.
- Kisah-kisah dalam kitab suci Buddha.
- Kehidupan masyarakat Jawa kuno.
- Kapal-kapal dagang Nusantara.
- Flora, fauna, dan kehidupan sehari-hari.
Selain itu, terdapat 504 arca
Buddha yang tersebar di berbagai tingkat candi, serta 72 stupa berlubang
yang mengelilingi stupa utama di puncaknya.
Mengapa Borobudur Pernah Terlupakan?
Setelah pusat kekuasaan di Jawa
berpindah ke Jawa Timur sekitar abad ke-10, Borobudur perlahan ditinggalkan.
Selama berabad-abad, candi ini tertutup oleh abu vulkanik, tanah, dan lebatnya
vegetasi sehingga keberadaannya hampir terlupakan.
Pada tahun 1814, ketika Jawa
berada di bawah pemerintahan Inggris, Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles
menerima laporan mengenai adanya bangunan kuno di kawasan Borobudur. Atas
perintahnya dilakukan pembersihan awal sehingga candi mulai dikenal kembali.
Pemugaran besar kemudian berlangsung pada abad ke-20, termasuk proyek restorasi
bersama UNESCO dan Pemerintah Indonesia pada tahun 1973–1983.
Borobudur di Masa Kini
Kini Borobudur tidak hanya menjadi
tujuan wisata, tetapi juga tetap berfungsi sebagai tempat ibadah umat Buddha,
terutama saat perayaan Hari Raya Waisak.
Karena nilai sejarah, budaya,
arsitektur, dan spiritualnya yang luar biasa, pada tahun 1991 Borobudur
ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Pengakuan ini menegaskan
pentingnya Borobudur sebagai warisan budaya yang harus dijaga oleh seluruh umat
manusia.
Penutup
Sahabat DM, Candi Borobudur bukan
sekadar bangunan batu yang megah. Di setiap relief dan tingkatannya tersimpan
kisah tentang keimanan, budaya, ilmu pengetahuan, serta kecerdasan nenek moyang
bangsa Indonesia. Kemampuannya membangun monumen raksasa tanpa teknologi modern
menunjukkan tingginya penguasaan teknik dan seni pada masa itu.
Hingga sekarang, Borobudur tetap
menjadi lambang kejayaan peradaban Nusantara sekaligus pengingat bahwa warisan
budaya adalah bagian penting dari identitas bangsa yang patut kita lestarikan.
Referensi
- Soekmono. The Javanese Candi: Function and Meaning.
BRILL – The Javanese Candi: Function and Meaning -
Soekmono. Borobudur: A Prayer in Stone. Jakarta: PT Intermasa.
Buku ini merupakan terbitan lama PT Intermasa dan saat ini tidak memiliki halaman resmi yang dapat diakses secara publik. -
John Miksic. Borobudur: Golden Tales of the Buddhas. Periplus Editions.
Periplus Editions -
R. Soekmono. Chandi Borobudur: A Monument of Mankind. UNESCO Press.
UNESCO Digital Library - UNESCO – Borobudur Temple Compounds
- Balai Konservasi Borobudur

