Syekh Abdul Qadir Jailani
Sahabat
DM, ketika membahas tokoh-tokoh besar dalam sejarah
Islam, ada satu nama yang selalu disebut dengan penuh penghormatan, yaitu Syekh
Abdul Qadir Jailani. Beliau dikenal sebagai seorang ulama, ahli fikih, ahli
hadis, dan tokoh tasawuf yang pengaruhnya masih terasa hingga saat ini. Tidak
hanya meninggalkan karya-karya ilmiah, beliau juga mendirikan sebuah tarekat
yang berkembang di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Lalu, bagaimana perjalanan
hidup seorang anak dari sebuah kota kecil di Persia hingga menjadi salah satu
ulama paling berpengaruh dalam sejarah Islam? Mari kita telusuri kisahnya.
Masa Kelahiran dan Keluarga
Syekh Abdul Qadir Jailani memiliki nama lengkap Muhyiddin Abu Muhammad Abdul Qadir bin Abu
Shalih Musa al-Jailani. Beliau lahir sekitar tahun 470 Hijriah atau
1077–1078 Masehi di daerah Gilan atau Jilan, Persia, yang saat ini termasuk
wilayah Iran.
Beliau lahir dari keluarga yang dikenal memiliki kehidupan religius
dan sederhana. Ayahnya, Abu Shalih Musa, merupakan seorang yang dihormati
karena ketakwaannya, sedangkan ibunya dikenal sebagai wanita yang salehah dan
sangat memperhatikan pendidikan anaknya.
Sejak kecil, Abdul Qadir dikenal sebagai anak yang jujur, tenang,
serta memiliki kecintaan yang besar terhadap ilmu pengetahuan dan ibadah.
Perjalanan Menuntut Ilmu ke Baghdad
Saat menginjak usia
sekitar delapan belas tahun, Abdul Qadir memutuskan meninggalkan kampung
halamannya untuk menuntut ilmu di Baghdad. Pada masa itu, Baghdad merupakan
pusat ilmu pengetahuan terbesar di dunia Islam dan menjadi tempat berkumpulnya
para ulama dari berbagai wilayah.
Sebelum berangkat, sang ibu memberikan bekal berupa empat puluh
keping emas yang dijahit di dalam pakaiannya. Sang ibu juga berpesan agar
putranya tidak pernah berbohong dalam keadaan apa pun.
Dalam perjalanan, rombongannya dihadang oleh sekelompok perampok.
Ketika ditanya apakah membawa harta, Abdul Qadir dengan jujur mengaku membawa
empat puluh keping emas. Kejujuran tersebut membuat pemimpin perampok terkejut
dan akhirnya dikisahkan bertobat. Walaupun kisah ini berasal dari tradisi
manaqib dan belum dapat dipastikan secara historis, cerita tersebut menjadi
simbol kejujuran yang selalu dikaitkan dengan sosok Syekh Abdul Qadir Jailani.
Menjadi Ulama yang Disegani
Sesampainya di Baghdad, Abdul
Qadir mempelajari berbagai cabang ilmu Islam seperti Al-Qur’an, hadis, tafsir,
fikih Mazhab Hanbali, bahasa Arab, sastra, dan tasawuf.
Beliau berguru kepada banyak ulama besar hingga akhirnya dikenal
sebagai seorang ahli fikih dan pendakwah yang memiliki wawasan luas. Setelah
menyelesaikan pendidikannya, beliau mulai mengajar dan menyampaikan ceramah
kepada masyarakat.
Majelis ilmu yang beliau pimpin selalu dipenuhi oleh ribuan orang
dari berbagai kalangan. Cara penyampaiannya sederhana, mudah dipahami, namun
mampu menyentuh hati para pendengarnya.
Dakwah yang Menyatukan Syariat dan Akhlak
Syekh Abdul Qadir
Jailani mengajarkan bahwa ilmu agama tidak cukup hanya dipahami, tetapi juga
harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Beliau menekankan pentingnya kejujuran, kesabaran, rendah hati,
tawakal, serta kepedulian terhadap sesama. Menurut beliau, seseorang yang
memiliki ilmu tinggi tetapi tidak memiliki akhlak yang baik belum mencapai
kesempurnaan dalam beragama.
Pendekatan dakwah yang lembut dan penuh hikmah inilah yang membuat
beliau dicintai masyarakat dan dihormati oleh para ulama pada zamannya.
Lahirnya Tarekat Qadiriyah
Seiring semakin luasnya pengaruh
dakwah beliau, terbentuklah sebuah jalan pembinaan spiritual yang dikenal
sebagai Tarekat Qadiriyah.
Tarekat ini mengajarkan pentingnya memperbanyak zikir, membersihkan
hati, memperbaiki akhlak, dan tetap berpegang teguh pada Al-Qur’an serta Sunnah
Nabi Muhammad SAW.
Dalam perkembangannya, Tarekat Qadiriyah menyebar ke berbagai
wilayah seperti Irak, Suriah, Turki, India, Pakistan, Afrika Utara, hingga Asia
Tenggara. Di Indonesia sendiri, tarekat ini berkembang di berbagai pesantren
dan majelis zikir serta masih memiliki banyak pengikut hingga sekarang.
Karya-Karya yang Tetap Dipelajari
Selain dikenal sebagai
pendakwah, Syekh Abdul Qadir Jailani juga meninggalkan sejumlah karya ilmiah
yang menjadi rujukan dalam dunia Islam.
Kitab Al-Ghunyah li Talibi Tariq al-Haqq membahas akidah,
ibadah, dan akhlak seorang muslim berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah.
Kitab Futuh al-Ghaib berisi kumpulan nasihat tentang
penyucian jiwa, keikhlasan, dan hubungan seorang hamba dengan Allah.
Sedangkan Al-Fath ar-Rabbani merupakan kumpulan ceramah
beliau yang memuat berbagai petunjuk kehidupan dan pendidikan spiritual.
Hingga saat ini, kitab-kitab tersebut masih dipelajari di berbagai
pesantren dan lembaga pendidikan Islam di banyak negara.
Gelar Muhyiddin dan Pengaruh Besarnya
Karena jasa dan
kontribusinya dalam membimbing umat, Syekh Abdul Qadir Jailani mendapatkan
gelar Muhyiddin, yang berarti “penghidup agama.” Beliau berhasil
memadukan ilmu syariat dengan tasawuf sehingga ajaran Islam dapat dipahami
secara utuh, baik dari sisi hukum maupun pembentukan akhlak. Pengaruhnya tidak
hanya dirasakan pada masa hidupnya, tetapi juga terus berkembang hingga lebih
dari delapan abad setelah beliau wafat.
Wafatnya Sang Ulama Besar
Pada tahun 561 Hijriah atau 1166
Masehi, Syekh Abdul Qadir Jailani wafat di Baghdad dalam usia sekitar delapan
puluh delapan tahun. Kepergian beliau menjadi kehilangan besar bagi dunia
Islam. Namun, murid-muridnya melanjutkan perjuangan dakwahnya sehingga ajaran
dan pemikirannya tetap hidup hingga sekarang.
Makam beliau yang berada di Baghdad masih menjadi salah satu tempat
yang banyak dikunjungi umat Islam dari berbagai negara sebagai bentuk
penghormatan kepada seorang ulama besar yang telah memberikan sumbangsih luar
biasa bagi perkembangan ilmu dan spiritualitas Islam.
Sekapur Sirih
Sahabat DM, perjalanan hidup Syekh Abdul Qadir
Jailani menunjukkan bahwa kebesaran seseorang tidak hanya diukur dari luasnya
ilmu yang dimiliki, tetapi juga dari kejujuran, kerendahan hati, dan manfaat
yang diberikan kepada masyarakat.
Dari seorang anak yang lahir di sebuah daerah kecil di Persia,
beliau tumbuh menjadi ulama yang namanya dikenal di seluruh dunia Islam.
Karya-karyanya terus dipelajari, ajarannya terus diamalkan, dan keteladanannya
tetap menjadi inspirasi bagi jutaan umat Islam hingga hari ini.
Semoga kisah hidup Syekh Abdul Qadir Jailani memberikan pelajaran
berharga bagi kita semua untuk terus menuntut ilmu, menjaga akhlak, serta
mengamalkan ilmu tersebut dengan penuh keikhlasan.

