Kenapa Banyak Nama Pasar di Jakarta Menggunakan Nama Hari? Ternyata Ini Warisan Batavia yang Masih Bertahan Hingga Sekarang

Daftar Menarik
By -
0



Halo Sahabat DM…

Kalau kalian pernah berkunjung ke Jakarta, pasti sudah tidak asing lagi dengan nama-nama seperti Pasar Senen, Pasar Rebo, Pasar Minggu, atau Pasar Jumat. Nama-nama tersebut terdengar sangat sederhana karena menggunakan nama hari dalam satu minggu.


Namun, pernahkah kalian bertanya-tanya, mengapa sebuah pasar dinamai berdasarkan nama hari? Mengapa ada Pasar Senen dan Pasar Rebo, tetapi kita hampir tidak pernah mendengar Pasar Selasa atau Pasar Kamis?


Ternyata, semua itu bukan sekadar kebetulan. Di balik nama-nama tersebut tersimpan sejarah panjang yang usianya lebih dari 300 tahun. Nama-nama itu merupakan peninggalan sistem perdagangan yang diterapkan ketika Jakarta masih bernama Batavia dan berada di bawah kekuasaan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).


Lalu bagaimana kisahnya? Mari kita telusuri bersama.



Awal Mula Sistem Pasar di Batavia

Pada abad ke-17 hingga abad ke-18, Batavia berkembang menjadi pusat perdagangan terbesar di Asia. Kapal-kapal dagang datang dari berbagai penjuru dunia, mulai dari Nusantara, Tiongkok, India, Timur Tengah, hingga Eropa. Semakin ramai perdagangan, semakin besar pula kebutuhan akan pasar sebagai tempat bertemunya penjual dan pembeli.


Namun, pemerintah VOC menghadapi sebuah tantangan. Jika semua pasar buka setiap hari, para pedagang akan tersebar ke berbagai lokasi sehingga jumlah pembeli di setiap pasar menjadi sedikit. Selain itu, pemerintah juga akan kesulitan mengawasi aktivitas perdagangan dan memungut pajak.


Menurut sejarawan Susan Abeyasekere dalam Jakarta: A History (1987), pemerintah kolonial kemudian menerapkan sistem pasar bergilir, yaitu setiap pasar memiliki satu hari utama untuk beroperasi. Leonard Blussé dalam Visible Cities: Batavia, Canton and Nagasaki (2008) menjelaskan bahwa sistem ini membuat perdagangan lebih teratur sekaligus mempermudah pengawasan oleh pemerintah kolonial.



Mengapa Pasar Dibuka Bergantian?

Sekitar pertengahan abad ke-18, seorang pejabat VOC bernama Justinus Vinck mengembangkan beberapa pasar di luar pusat Kota Batavia. Berdasarkan Encyclopaedie van Nederlandsch-Indië (1917), setiap pasar diberi jadwal operasional pada hari tertentu.


Dengan sistem ini, seorang pedagang tidak harus menetap di satu tempat. Hari Senin ia bisa berdagang di satu pasar, hari Selasa berpindah ke pasar lain, lalu hari Rabu ke lokasi berikutnya. Cara ini membuat setiap pasar selalu ramai karena seluruh pedagang berkumpul di satu lokasi sesuai jadwalnya.


Lama-kelamaan masyarakat mulai menyebut setiap pasar berdasarkan hari operasionalnya. Dari sinilah lahir nama-nama Pasar Senen, Pasar Rebo, Pasar Kamis, Pasar Jumat, hingga Pasar Minggu.



Pasar Senen

Salah satu pasar yang paling berkembang adalah Pasar Senen. Pasar ini mulai ramai sekitar tahun 1733 dan mencapai puncak aktivitas perdagangan setiap hari Senin.


Menurut Susan Abeyasekere (1987), Pasar Senen menjadi pusat perdagangan yang sangat penting karena mempertemukan pedagang dari berbagai daerah dan berbagai kelompok etnis di Batavia. Seiring berkembangnya kota, kawasan ini terus tumbuh menjadi pusat perdagangan sehingga nama "Senen" tetap bertahan hingga sekarang.



Pasar Selasa

Tidak banyak orang mengetahui bahwa Batavia juga pernah memiliki Pasar Selasa.


Menurut sejumlah catatan sejarah kolonial yang dirangkum dalam berbagai kajian sejarah Jakarta, pasar ini berada di kawasan yang sekarang dikenal sebagai Koja, Jakarta Utara. Pada awalnya masyarakat menyebutnya Pasar Selasa karena hari pasarnya berlangsung setiap hari Selasa.


Namun, seiring berkembangnya kawasan Koja sebagai permukiman dan pusat aktivitas masyarakat, nama wilayah tersebut menjadi jauh lebih populer dibandingkan nama hari pasarnya. Akibatnya, sebutan Pasar Selasa perlahan menghilang dan masyarakat lebih mengenalnya sebagai Pasar Koja.



Pasar Rebo

Berbeda dengan Pasar Selasa, nama Pasar Rebo justru tetap bertahan hingga sekarang.


Dahulu kawasan ini menjadi tempat berkumpulnya para petani dari pinggiran Batavia yang membawa hasil panen berupa sayur, buah, padi, dan berbagai kebutuhan pangan lainnya setiap hari Rabu.


Karena kawasan tersebut terus berkembang menjadi permukiman yang padat, nama Pasar Rebo akhirnya menjadi identitas wilayah dan tetap digunakan hingga saat ini sebagai nama kecamatan di Jakarta Timur.



Pasar Kamis

Selain Pasar Selasa, dahulu Batavia juga memiliki Pasar Kamis.


Pasar ini berada di kawasan yang pada masa kolonial dikenal sebagai Meester Cornelis, wilayah yang sekarang menjadi Jatinegara, Jakarta Timur.


Pada awalnya masyarakat mengenal tempat tersebut sebagai Pasar Kamis karena aktivitas perdagangan terbesarnya berlangsung setiap hari Kamis. Namun, setelah nama wilayah Meester Cornelis diubah menjadi Jatinegara pada masa pendudukan Jepang tahun 1942, masyarakat lebih sering menggunakan nama wilayah tersebut.


Akibatnya, nama Pasar Kamis perlahan menghilang dan berganti menjadi Pasar Jatinegara atau Pasar Mester, nama yang masih dikenal hingga sekarang.



Pasar Jumat

Pasar berikutnya adalah Pasar Jumat.


Sesuai namanya, pasar ini dahulu mencapai puncak keramaian setiap hari Jumat. Walaupun bentuk pasar tradisionalnya telah berubah akibat perkembangan kota, nama Pasar Jumat tetap dipertahankan sebagai nama kawasan di Jakarta Selatan.


Hal ini menunjukkan bahwa nama sebuah pasar dapat bertahan jauh lebih lama dibandingkan fungsi awalnya.


Pasar Sabtu

Selain itu, Batavia juga pernah memiliki Pasar Sabtu.


Beberapa catatan sejarah menyebutkan bahwa pasar ini berada di kawasan yang kemudian berkembang menjadi Tanah Abang, salah satu pusat perdagangan tekstil terbesar di Indonesia.


Seiring pesatnya perkembangan kawasan Tanah Abang, masyarakat lebih mengenal nama wilayahnya daripada nama hari pasarnya. Akibatnya, nama Pasar Sabtu perlahan menghilang dari penggunaan sehari-hari.



Pasar Minggu

Nama Pasar Minggu merupakan salah satu yang paling dikenal hingga sekarang.


Sejak masa kolonial, kawasan ini menjadi pusat perdagangan hasil pertanian, buah-buahan, dan tanaman yang dipasok ke Batavia. Karena aktivitas terbesarnya berlangsung setiap hari Minggu, masyarakat kemudian menyebutnya sebagai Pasar Minggu.


Nama tersebut terus digunakan hingga akhirnya menjadi nama resmi wilayah di Jakarta Selatan.



Mengapa Ada Nama yang Bertahan dan Ada yang Hilang?

Jika diperhatikan, hanya beberapa nama hari yang masih bertahan hingga sekarang, yaitu Pasar Senen, Pasar Rebo, Pasar Jumat, dan Pasar Minggu.


Sementara itu, Pasar Selasa, Pasar Kamis, dan Pasar Sabtu sudah hampir tidak dikenal lagi.


Penyebabnya bukan karena pasar-pasar tersebut tidak pernah ada, melainkan karena kawasan tempat pasar itu berada berkembang dengan identitas baru yang lebih kuat.


Pasar Selasa akhirnya lebih dikenal sebagai Koja, Pasar Kamis berubah menjadi Pasar Jatinegara atau Pasar Mester, sedangkan Pasar Sabtu lebih dikenal sebagai Tanah Abang. Nama wilayah tersebut akhirnya mengalahkan nama hari pasar yang sebelumnya digunakan oleh masyarakat.


Sebaliknya, kawasan Senen, Rebo, Jumat, dan Minggu justru mempertahankan nama hari sebagai identitas wilayah hingga sekarang.



Warisan Sejarah yang Masih Hidup

Meskipun saat ini hampir semua pasar di Jakarta buka setiap hari, nama-nama yang berasal dari jadwal operasional pada masa VOC masih terus digunakan.


Tanpa disadari, jutaan warga Jakarta setiap hari menyebut nama-nama yang usianya telah mencapai lebih dari tiga abad. Nama-nama tersebut menjadi bukti bahwa sejarah tidak selalu tersimpan di museum atau buku pelajaran, tetapi juga hidup di tengah masyarakat melalui nama tempat yang kita gunakan setiap hari.



Penutup

Jadi, nama Pasar Senen, Pasar Rebo, Pasar Jumat, dan Pasar Minggu bukanlah nama yang dipilih secara sembarangan. Nama-nama tersebut berasal dari sistem pasar bergilir yang diterapkan pemerintah VOC pada abad ke-18 agar kegiatan perdagangan di Batavia lebih teratur.


Pada masa itu sebenarnya juga ada Pasar Selasa, Pasar Kamis, bahkan Pasar Sabtu. Namun, seiring perkembangan kota, nama-nama tersebut tergantikan oleh nama wilayah seperti Koja, Jatinegara, dan Tanah Abang.


Hanya sebagian nama hari yang berhasil bertahan hingga sekarang dan menjadi bagian dari identitas Jakarta modern.


Jadi, lain kali ketika kalian melewati Pasar Senen, Pasar Rebo, Pasar Minggu, atau Pasar Jumat, ingatlah bahwa nama-nama tersebut bukan sekadar penunjuk lokasi, melainkan warisan sejarah Batavia yang telah hidup lebih dari 300 tahun.




Catatan penting: Klaim bahwa Pasar Selasa = Koja dan Pasar Sabtu = Tanah Abang tidak didukung secara kuat oleh sumber primer; hubungan tersebut banyak berasal dari artikel populer.
Tags:

Post a Comment

0 Comments

Post a Comment (0)
3/related/default