Kenapa Banyak Gerai Boba Tutup Akhir-Akhir Ini? Ternyata Bukan Sekadar Karena Tren Sudah Lewat

Daftar Menarik
By -
0



Dari Minuman Paling Diburu Menjadi Banyak Gerai yang Tutup

Beberapa tahun lalu, minuman boba atau bubble tea menjadi salah satu fenomena terbesar di industri kuliner Indonesia. Sekitar tahun 2019 hingga 2022, hampir setiap pusat perbelanjaan, kawasan perkantoran, hingga pinggir jalan dipenuhi gerai boba. Banyak merek baru bermunculan, mulai dari usaha rumahan hingga waralaba berskala nasional dan internasional. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat mulai melihat pemandangan yang berbeda. Tidak sedikit gerai boba yang menutup usahanya, bahkan beberapa merek yang sebelumnya cukup populer ikut mengurangi jumlah cabang. Kondisi ini sebenarnya bukan disebabkan oleh satu faktor saja, melainkan gabungan dari perubahan perilaku konsumen, kondisi ekonomi, hingga persaingan bisnis yang semakin ketat.


Pasar Sudah Terlalu Penuh

Salah satu penyebab utama adalah pasar boba yang sudah mengalami kejenuhan (market saturation). Ketika bisnis boba sedang berada di puncak popularitasnya, banyak pengusaha melihat peluang besar sehingga berlomba-lomba membuka gerai baru. Akibatnya, jumlah penjual bertambah jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan jumlah konsumennya. Menurut Harvard Business Review dalam pembahasan mengenai market saturation, ketika terlalu banyak perusahaan menawarkan produk yang serupa pada pasar yang sama, setiap pelaku usaha akan mendapatkan pangsa pasar yang semakin kecil. Dampaknya, omzet setiap gerai menurun meskipun jumlah masyarakat yang masih mengonsumsi boba sebenarnya tetap cukup besar. Persaingan harga yang semakin ketat juga membuat keuntungan setiap penjual menjadi semakin tipis.


Tren Minuman Terus Berubah

Industri makanan dan minuman sangat dipengaruhi oleh tren. Produk yang populer hari ini belum tentu tetap diminati beberapa tahun kemudian. Saat boba mencapai puncak popularitasnya, konsumen mulai mencari pengalaman baru dengan mencoba jenis minuman lain seperti kopi susu, matcha, yogurt drink, smoothies, hingga teh buah. Mintel Global Food & Drink Trends 2024 dan Innova Market Insights 2024 melaporkan bahwa konsumen, terutama Generasi Z dan Milenial, kini lebih tertarik pada minuman yang memiliki manfaat kesehatan, menggunakan bahan alami, serta mengandung gula yang lebih rendah. Pergeseran tren ini membuat frekuensi pembelian boba secara perlahan menurun karena masyarakat memiliki lebih banyak pilihan.


Kesadaran Hidup Sehat Semakin Meningkat

Perubahan gaya hidup juga memberikan dampak besar terhadap penjualan boba. Saat ini semakin banyak orang yang memperhatikan jumlah gula yang mereka konsumsi setiap hari. World Health Organization (WHO) dalam Guideline: Sugars Intake for Adults and Children (2015) menyarankan agar konsumsi gula tambahan dibatasi hingga kurang dari 10% dari total kebutuhan energi harian, bahkan idealnya di bawah 5% agar manfaat kesehatannya lebih optimal. Di sisi lain, satu gelas boba ukuran sedang dapat mengandung sekitar 30–60 gram gula, tergantung ukuran minuman, tingkat kemanisan, dan topping yang dipilih. Penelitian dan edukasi kesehatan yang semakin luas membuat masyarakat lebih sadar akan risiko konsumsi gula berlebihan, seperti obesitas, diabetes tipe 2, dan penyakit jantung. Harvard T.H. Chan School of Public Health juga menjelaskan bahwa konsumsi minuman manis secara rutin berkaitan dengan meningkatnya risiko berbagai penyakit metabolik. Kesadaran inilah yang membuat sebagian konsumen mulai mengurangi kebiasaan membeli boba.


Harga Bahan Baku Terus Naik

Selain menghadapi penurunan permintaan, pelaku usaha juga harus menghadapi kenaikan biaya produksi. Dalam beberapa tahun terakhir, harga susu, gula, bubuk teh, tepung tapioka, cup plastik, sedotan, hingga biaya distribusi mengalami peningkatan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa inflasi pada kelompok makanan dan minuman ikut meningkatkan biaya operasional pelaku usaha kuliner. Sementara itu, Bank Indonesia dalam laporan inflasinya juga mencatat bahwa kenaikan harga bahan pangan dan biaya logistik menjadi salah satu faktor yang memengaruhi biaya produksi. Akibatnya, pemilik usaha berada pada posisi yang sulit. Jika harga jual dinaikkan, pelanggan bisa berkurang. Namun jika harga tetap dipertahankan, keuntungan yang diperoleh menjadi semakin kecil.


Biaya Operasional Gerai Semakin Berat

Sebagian besar gerai boba beroperasi di lokasi strategis seperti pusat perbelanjaan, ruko, atau kawasan bisnis yang memiliki biaya sewa cukup tinggi. Selain membayar sewa tempat, pelaku usaha juga harus menanggung biaya listrik, air, gaji karyawan, pajak, hingga biaya promosi. Ketika jumlah pelanggan mulai menurun, seluruh biaya tetap tersebut tidak ikut berkurang. Akibatnya, keuntungan semakin menipis dan tidak sedikit gerai yang akhirnya memilih menghentikan operasional karena pendapatannya tidak lagi mampu menutupi biaya operasional setiap bulan.


Terlalu Banyak Cabang dalam Waktu Singkat

Pada masa kejayaan boba, banyak merek melakukan ekspansi secara agresif melalui sistem waralaba. Cabang baru dibuka dalam jumlah besar, bahkan sering kali lokasinya berdekatan dengan cabang lain yang masih berada di bawah merek yang sama. Dalam ilmu pemasaran, kondisi ini dikenal sebagai market cannibalization, yaitu ketika cabang baru justru mengambil pelanggan dari cabang lama. Philip Kotler dan Kevin Lane Keller dalam buku Marketing Management menjelaskan bahwa ekspansi yang terlalu cepat tanpa mempertimbangkan kapasitas pasar dapat menurunkan penjualan setiap cabang dan mengurangi keuntungan perusahaan secara keseluruhan. Strategi yang awalnya bertujuan memperluas pasar justru bisa menjadi beban ketika permintaan mulai menurun.


Konsumen Mulai Lebih Hemat

Kondisi ekonomi juga memengaruhi kebiasaan masyarakat dalam berbelanja. Ketika harga berbagai kebutuhan pokok meningkat, konsumen biasanya mulai mengurangi pengeluaran yang dianggap bukan kebutuhan utama. Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menjelaskan bahwa dalam situasi ekonomi yang tidak pasti, masyarakat cenderung menekan discretionary spending, yaitu pengeluaran untuk barang atau jasa yang sifatnya tidak mendesak. Bagi sebagian orang, membeli boba bukan lagi kebutuhan, melainkan sekadar hiburan atau gaya hidup. Oleh karena itu, pengeluaran untuk minuman kekinian menjadi salah satu pos yang paling mudah dikurangi.


Persaingan Semakin Beragam

Saat ini persaingan tidak hanya datang dari sesama penjual boba. Berbagai jenis minuman lain seperti es teh jumbo, kopi susu lokal, jus buah segar, minuman herbal, hingga minuman berbasis matcha semakin mudah ditemukan dengan harga yang sering kali lebih murah. Pilihan yang semakin beragam membuat konsumen tidak lagi terpaku pada satu jenis minuman saja. Jika dahulu boba menjadi pilihan utama ketika ingin membeli minuman kekinian, kini konsumen memiliki banyak alternatif yang sesuai dengan selera maupun anggaran mereka.


Kesimpulan

Fenomena banyaknya gerai boba yang tutup bukan berarti masyarakat benar-benar berhenti menyukai minuman tersebut. Penyebabnya merupakan kombinasi dari berbagai faktor, mulai dari pasar yang sudah terlalu jenuh, perubahan tren minuman, meningkatnya kesadaran hidup sehat, kenaikan harga bahan baku, tingginya biaya operasional, ekspansi cabang yang terlalu cepat, hingga perubahan pola belanja masyarakat. Dengan kata lain, industri boba saat ini sedang memasuki fase seleksi alami dalam dunia bisnis. Merek yang mampu berinovasi, menjaga kualitas produk, mengendalikan biaya operasional, serta mengikuti perubahan kebutuhan konsumen masih memiliki peluang besar untuk bertahan. Sebaliknya, gerai yang hanya mengandalkan popularitas tren tanpa menawarkan nilai tambah akan semakin sulit bersaing di pasar yang kini jauh lebih kompetitif.

Post a Comment

0 Comments

Post a Comment (0)
3/related/default