Di bagian selatan Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, terdapat sebuah kota kecil bernama Bumiayu. Meski ukurannya tidak sebesar kota-kota lain di Jawa Tengah, Bumiayu memiliki sejarah yang sangat panjang. Daerah ini bukan hanya menjadi jalur penghubung antara Jawa Tengah dan Jawa Barat, tetapi juga menyimpan kisah tentang kerajaan, perdagangan, kolonial Belanda, hingga kehidupan manusia purba.
Banyak orang mengenal Bumiayu sebagai kota transit menuju Purwokerto atau Yogyakarta. Namun di balik keramaiannya, Bumiayu ternyata memiliki warisan sejarah yang menarik untuk dipelajari.
Asal Usul Nama Bumiayu
Salah satu kisah yang paling terkenal adalah tentang asal nama Bumiayu.
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, sekitar tahun 1677, ketika Adipati Anom—yang kemudian menjadi Sunan Amangkurat II—melarikan diri akibat pemberontakan Trunajaya, rombongannya melewati wilayah yang sekarang menjadi Bumiayu. Di tempat itu ia melihat alam yang indah serta penduduk yang ramah. Konon, ia juga bertemu dengan seorang perempuan yang sangat cantik. Karena terkesan, daerah tersebut diberinya nama Bumi Ayu, yang berarti tanah yang indah atau tanah yang cantik.
Meskipun kisah ini termasuk tradisi lisan dan belum memiliki bukti sejarah tertulis yang benar-benar pasti, cerita tersebut telah diwariskan turun-temurun dan menjadi bagian dari identitas masyarakat Bumiayu. (Pemerintah Kecamatan Bumiayu, 2020; Profil Kecamatan Bumiayu Pemerintah Kabupaten Brebes).
Bumiayu pada Masa Kerajaan Mataram
Pada masa Kerajaan Mataram Islam, wilayah Bumiayu berada di jalur penting yang menghubungkan pesisir utara Jawa dengan wilayah pedalaman.
Jalur ini sering digunakan oleh para pedagang, utusan kerajaan, maupun pasukan militer. Karena letaknya yang strategis di antara pegunungan dan dataran rendah, Bumiayu berkembang menjadi tempat persinggahan sebelum perjalanan dilanjutkan ke Tegal, Banyumas, atau wilayah Priangan di Jawa Barat.
Sejarah Kabupaten Brebes juga mencatat bahwa daerah ini telah menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Mataram sejak abad ke-17 sebelum akhirnya berkembang menjadi wilayah administratif tersendiri pada masa berikutnya. (Pemerintah Kabupaten Brebes).
Masa Kolonial Belanda
Ketika Belanda menguasai Pulau Jawa, Bumiayu berkembang menjadi salah satu pusat administrasi di wilayah Brebes bagian selatan.
Belanda membangun berbagai infrastruktur seperti jalan raya, jalur kereta api, dan jembatan untuk memperlancar pengangkutan hasil bumi. Salah satu peninggalan yang masih dikenal masyarakat adalah Jembatan Sakalibel yang menjadi bagian penting dari jaringan transportasi pada masa kolonial.
Selain itu, jalur kereta api yang melintasi Bumiayu membuat kota ini semakin ramai karena menjadi tempat persinggahan perdagangan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah. (Pemerintah Kecamatan Bumiayu).
Bumiayu Ternyata Menyimpan Jejak Manusia Purba
Hal yang paling mengejutkan dari sejarah Bumiayu justru berasal dari masa yang jauh lebih tua, bahkan sebelum munculnya kerajaan-kerajaan di Indonesia.
Di daerah Kalierang, para arkeolog menemukan kawasan yang sekarang dikenal sebagai Situs Bumiayu. Kawasan ini menyimpan banyak fosil hewan purba seperti gajah, kerbau purba, badak, rusa, buaya, hingga berbagai artefak batu.
Penelitian menunjukkan bahwa kawasan ini telah dihuni oleh berbagai jenis hewan purba sejak sekitar 1,8 juta hingga ratusan ribu tahun yang lalu, pada masa Pleistosen. Karena kekayaan temuannya, Situs Bumiayu menjadi salah satu situs purbakala terpenting di Pulau Jawa bagian barat.
Kini berbagai fosil tersebut disimpan dan dipamerkan di Museum Purbakala Bumiayu, sehingga masyarakat dapat mempelajari kehidupan masa lampau secara langsung. (Museum Purbakala Bumiayu).
Bumiayu Setelah Indonesia Merdeka
Setelah Indonesia merdeka, Bumiayu terus berkembang menjadi pusat ekonomi di wilayah selatan Kabupaten Brebes.
Pasar tradisional, sekolah, rumah sakit, serta pusat perdagangan mulai tumbuh. Letaknya yang berada di jalur nasional membuat Bumiayu menjadi tempat singgah kendaraan dari Jakarta menuju Purwokerto, Yogyakarta, hingga Jawa Timur.
Saat ini, Bumiayu dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan, perdagangan, dan pelayanan masyarakat di Brebes bagian selatan.
Budaya yang Masih Terjaga
Masyarakat Bumiayu sebagian besar merupakan suku Jawa dengan dialek khas Brebes selatan yang dipengaruhi budaya Banyumasan.
Berbagai tradisi seperti sedekah bumi, pertunjukan wayang kulit, kesenian kuda lumping, hingga berbagai kegiatan keagamaan masih rutin dilaksanakan. Perpaduan budaya Jawa pesisir dan Banyumasan inilah yang membuat Bumiayu memiliki identitas budaya yang unik. (Profil Kecamatan Bumiayu)
Kuliner Khas Bumiayu yang Melegenda
Selain memiliki sejarah yang panjang, Bumiayu juga terkenal dengan kuliner khasnya yang sudah dikenal hingga luar daerah. Bahkan, banyak orang sengaja berhenti di Bumiayu hanya untuk menikmati makanan tradisional yang memiliki cita rasa khas.
Sate Kambing Muda Bumiayu
Salah satu kuliner yang paling terkenal adalah sate kambing muda Bumiayu. Berbeda dengan sate kambing di daerah lain, sate khas Bumiayu umumnya menggunakan kambing yang masih muda sehingga dagingnya lebih empuk dan tidak berbau prengus.
Proses pembakarannya menggunakan arang sehingga menghasilkan aroma asap yang khas. Setelah matang, sate biasanya disajikan dengan kecap manis, irisan bawang merah, cabai, dan potongan tomat. Di beberapa warung, sate juga disajikan bersama gulai kambing yang gurih sebagai pelengkap.
Keberadaan sate kambing telah menjadi bagian dari identitas kuliner Bumiayu selama puluhan tahun. Banyak rumah makan sate yang berdiri sejak puluhan tahun lalu dan masih ramai dikunjungi hingga sekarang. Bahkan, wisatawan yang melintasi jalur selatan Jawa sering menjadikan Bumiayu sebagai tempat singgah untuk menikmati sate kambing. (Pemerintah Kabupaten Brebes, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Brebes).
Jenang Bumiayu
Selain sate kambing, Bumiayu juga terkenal dengan jenang Bumiayu, yaitu makanan tradisional yang terbuat dari tepung beras ketan, santan, dan gula merah.
Jenang dimasak dalam waktu yang cukup lama sambil terus diaduk hingga menghasilkan tekstur yang kenyal, lembut, dan tidak mudah basi. Rasanya manis dengan aroma santan yang khas, sehingga sering dijadikan oleh-oleh bagi wisatawan yang berkunjung ke Bumiayu.
Bagi masyarakat setempat, jenang bukan sekadar makanan ringan. Hidangan ini juga sering disajikan pada berbagai acara adat, syukuran, hingga perayaan hari besar keagamaan. Tradisi membuat jenang secara turun-temurun menjadi salah satu warisan budaya kuliner yang masih bertahan hingga saat ini. (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Brebes; Pemerintah Kecamatan Bumiayu).
Kuliner sebagai Bagian dari Identitas Kota
Keberadaan sate kambing muda dan jenang menunjukkan bahwa sejarah Bumiayu tidak hanya tersimpan dalam bangunan tua atau cerita masa lalu, tetapi juga hidup melalui kuliner yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Hingga sekarang, kedua makanan tersebut masih menjadi ikon kuliner Bumiayu. Banyak wisatawan yang datang bukan hanya untuk menikmati suasana kota atau mengunjungi Situs Purbakala Bumiayu, tetapi juga untuk mencicipi sate kambing yang legendaris dan membawa pulang jenang sebagai buah tangan.
